Selasa, 08 Juni 2010

Tradisi mudik

Tradisi mudik adalah tradisi yang biasa dilakukan masyarakat Indonesia di hari-hari menjelang idul fitri atau yang biasa kita sebut lebaran. Hari raya idul fitri adalah hari raya keagamaan umat muslim yang selalu diadakan pada tanggal 1 syawal. Saat itu adalah hari raya dimana pada hari itu seluruh ibadah puasa yang dilakukan pada awal bulan ramadhan hingga akhir bulan ramadhan terhenti. Hari raya idul fitri adalah hari yang sangat dinantikan oleh umat muslim di seluruh dunia. Karena pada hari itu, seluruh dosa selama satu tahun yang lalu akan terhapus dan akan kembali pada fitri (suci).

Tradisi mudik pada saat lebaran adalah tradisi yang hanya ada pada masyarakat Indonesia. Pada hari itu, masyarakat Indonesia yang pergi merantau, akan kembali ke kampung halaman untuk melepas kerinduan dan saling maaf-memaafkan. Masyarakat Indonesia labih senang mengucapkan maaf pada saudara di kampung secara langsung, karena saat bertemu secara langsung, kita akan dapat melepas rindu serta lebih mempererat tali silahturahmi. Pada saat menjelang hari raya idul fitri, banyak sekali masyarakat yang pulang. Sehingga kota besar yang dulunya ramai, menjadi sangat sepi. Sedangkan desa yang dulunya sepi menjadi ramai. Banyak sekali biro jasa tranportasi yang kebanjiran penumpang. Seperti pesawat terbang, kapal laut, maupun kereta api. Tetapi pada tahun ini, pengguna bis cenderung sepi.

Pada lebaran tahun ini, banyak pemudik yang lebih memilih memakai alat transportasi pribadi, dari pada memakai angkutan umum, karena harganya yang lebih terjangkau. Sehingga jalan-jalan banyak dipenuhi oleh motor. Karena sebagian pemudik hanya memiliki sepeda motor sebagai alat transportasi. Banyak sekali pemudik yang rela untuk pulang kampung, walaupun biaya yang harus mereka keluarkan sangat besar. Pada hari-hari menjelang lebaran, tempat-tempat pegadaian menjadi sangat ramai. Karena banyak pemudik yang rela menggadaikan barangnya hanya untuk biaya mudik. Bahkan bank-bank pun banyak sekali yang ramai, karena banyak pemudik yang menukar uang lama mereka dengan uang baru mereka. Karena pada lebaran, juga dikenal membagikan uang pada anak-anak kecil, yang oleh masyarakat Tiong Hoa disebut ang-pau. Agar terlihat istimewa, maka uang yang diberikan harus rapi dan baru.

Para pemudik rela melakukan hal tersebut, karena hanya pada hari lebaranlah mereka dapat bertemu dengan sanak saudara mereka. Sehingga mereka harus berusaha untuk dapat pulang ke kampung halaman, memberikan ang-pao pada anak-anak kecil, atau hanya sekedar bersilahturahmi ke rumah sanak saudara. Di kampung, mereka juga harus bertemu dengan orang tua mereka untuk meminta maaf. Dalam adat islam, seorang anak harus mencium tangan kedua orang tuanya, jika ingin meminta maaf. Dan jika mereka sudah meninggal, maka kita harus ziarah ke makam mereka minimal 1 tahun sekali. Karena itu, bagi sebagian besar masyarakat, mudik adalah hal yang terpenting.

Mudik memiliki dampak sosial yang banyak bagi masyarakat. Seperti, meningkatnya jumlah kriminalitas pada bulan-bulan puasa. Sehingga banyak masyarakat yang merasa resah untuk keluar rumah terlalu lama pada malam hari. Contohnya di Polwil Priangan ini, jumlah kasus hingga H+4 lebaran terjadi 30 kasus (sumber menkokesra.co.id), serta terjadinya kebobolan sebuah bank di pekanbaru, sehingga rugi Rp 941 juta di brankas (Suara karya online). Fenomena mudik juga berdampak pada makin maraknya kecelakaan lalu lintas yang terjadi di banyak tempat, di Jakarta, sejak tujuh hari menjelang Lebaran hingga lima hari setelah Lebaran, jumlah korban tewas di jalan tol di DKI Jakarta, Banten, dan Jawa Barat naik 300 persen. Data yang dihimpun dari Posko Lebaran Departemen Perhubungan menyebutkan, penyebab utama kecelakaan adalah faktor manusia (60 persen). Korban tewas terbanyak akibat kecelakaan di Jalan Tol Jakarta-Cikampek (47 persen) sumber: kompas. Pada saat mendekati lebaran, juga makin maraknya pusat-pusat perbelanjaan yang mengobral harga tinggi-tinggi. Di Indonesia terdapat tradisi untuk membeli baju baru dan memakainya pada hari lebaran. Hal itu karena, pada hari lebaran, umat muslim bersih dari dosa mereka selama satu tahun yang lalu, sehingga masyarakat mengasumsikan bahwa pakaian serta alat sholat yang mereka pergunakan, harus bebas dari noda dan kotoran. Lalu, masyarakat mau tidak mau harus membeli baju baru untuk lebih mensucikan hari yang suci itu. Fenomena mudik juga meningkatkan para calo yang menjual tiket mereka dengan harga yang sangat tinggi. Tarif angkutan kereta api melonjak gila-gilaan. Akibat telanjur banyak dikuasai calo, sekarang ini tiket tak lagi bisa diperoleh di loket-bahkan untuk pemberangkatan jauh di belakang hari, saat-saat menjelang hari H Lebaran. Juga untuk tujuan balik, loket sudah tak menjual lagi tiket. Sebagian habis dibeli calon penumpang, sebagian besar lagi telanjur dikuasai calo. Konsumen pun, terpaksa harus membayar tiket kereta api ini dua atau tiga kali lipat dari harga resmi di loket (suara karya).

Karena maraknya masyarakat yang membeli pakaian atau menukar barang pada begadaian, maka melahirkan dampak ekonomi yang cukup tinggi. Perputaran uang yang terjadi sangat berbeda. Yang biasanya perputaran uang terbesar terjadi di kota besar, maka hal itu segera pindah ke daerah. Karena para pemudik pasti membawa uang dari kota tempat mereka mencari nafkah ke desa tempat mereka tinggal. Sehingga transaksi yang terjadi di desa sangat banyak dan lancar, sehingga pemasukan juga lebih banyak di desa dari pada di kota. Para pemudik yang pulang kampung, pasti membeli banyak oleh-oleh untuk dibawa ke kota. Dan pasti akan berjalan-jalan di kampung mereka. Di sana, becak atau alat tranportasi umum sangat dibutuhkan. Sehingga pemasukan daerah juga semakin banyak. Berbeda dengan di kota besar. Banyak toko-toko yang tutup, serta sedikitnya alat transportasi umum, sehingga pendapatan daerah akan berkurang, tidak seperti hari-hari biasa.

Fenomena mudik, tidak hanya dilakukan oleh warga muslim saja. Tetapi banyak warga non muslim juga melakukan hal yang sama. Hal ini, karena mayoritas penduduk Indonesia beragama islam, sehingga masyarakat non islam, seolah-olah terhipnotis oleh aktifitas yang biasa dilakukan masyarakat islam di Indonesia. Fenomena mudik tidak terjadi pada hari raya agama lainnya, karena pada hari raya agama lain, hari liburnya cenderung pendek. Atau bahkan hanya satu hari. Oleh karena itu, banyak masyarakat yang malas untuk pulang kampung. Tetapi pada libur lebaran, hari liburnya cenderung lebih lama. Sehingga masyarakat non islam, lebih memilih untuk melepas kerinduan kepada sanak saudara pada saat lebaran, dan lebih memuaskan diri untuk bercengkrama dengan keluarga besar mereka di kampung.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar